Ibnu Katsir lahir dan hidup di tengah keluarga terhormat di Kampung Mijdal, Daerah Bushra, sebelah timur Kota Damaskus, Suriah, dalam Tahun 700 H/1301 M.
Nama lengkapnya Imad al-Din Abu Fida’ Islam’il ibn al-Khatib Syihab al-Din Abu Hafsah Umar ibn KatsiralSyafi’i al-Dimasyqi. Beliau sering disebut dengan al-Busrawi, gelar yang dilekatkan pada tanah kelahirannya, selain digelari pula al-Dimasyqi. Hal ini karena Kota Basrah yang terletak di kawasan Damaskus.
Ayah Ibnu Katsir (Lahir sekitar Tahun 640 H dan wafat 703 H) berasal dari Bushra, sementara ibunya berasal dari Mijdal. Ayahnya, Syihabuddin Abu Hafsh Umar ibn Katsir, adalah ulama faqih dan berpengaruh di daerahnya, terkenal sebagai ahli ceramah.
Ibn Katsir dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan menjunjung nilai-nilai keilmuan, meski ditinggal sang ayah sejak masih usia belia. Pengajaran agama dan kecintaan terhadap ilmu lebih banyak didapatkannya dari kakaknya, Abdul Wahab hingga ia selesai menghafalkan Al-Qur’an saat usianya baru genap 11 tahun.
Pada tahun 707 H, Ibn Katsir pindah ke Kota Damaskus dan menimba ilmu dari Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari, Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq ibn Yahya ibn al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Jamaluddin Yusuf ibn Zaki al-Mizzi, dan masih banyak lagi. Ibnu Katsir juga mengembara sampai ke Mesir dan beberapa negara lain untuk menimba ilmu lebih banyak lagi.
Ketekunan dan kegigihannya belajar, membuahkan hasil yang luar biasa. Ibnu Katsir kemudian dikenal sebagai ahli ilmu-ilmu Al-Qur’an, tafsir, tokoh Hadits, sejarawan, dan ahli fiqih. Saat itu, abad ke-8 H, keulamaannya sangat disegani dan diakui oleh banyak ulama besar lainnya, seperti: Syekh Muhammad Husain al-Zahabi, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, menyatakan “Ibnu Katsir telah menduduki posisi yang sangat tinggi dari sisi keilmuan, dan para ulama menjadi saksi terhadap keluasan ilmunya, penguasaan materinya, khususnya dalam bidang tafsir, Hadits, dan tarikh.”